Akhirnya Pak Presiden Akan Membelikan Seragam Baru Untuk Guru? Bertanya Dengan Nada Paling Lembut.
Ada tulisan Bu Guru yang sampai ke mentri, dengan 3,3 juta viewer saat itu. Tapi Bu Guru nggak tau bisa sampai ke Pak Presiden nggak ya curhatan ini. Asli masgul, takut saja beliau marah. Padahal di banyak tulisan Bu Guru mencoba memahami kebijakan kebijakan beliau, sampai dibilang Bu Guru Buzer pemerintah. Hanya kekuatan netizen yang bisa up berita ini.
Jadi curhat an nya di mulai dari :
Lewat di beranda, tentara mau mengajarkan guru berpakaian rapi [1]. Karena sering berfikiran positif, ini berita baik. Yes ! Ada anggaran untuk membelikan seragam baru untuk guru (iya dong, Pak Tara baju selalu rapi itu kan dari atas sampai bawah di belikan negara).
Eh, lewat lagi pekik guru honor yang diangkat PPPK Paruh Waktu tapi petugas MBG mau dijadikan ASN PPPK Penuh Waktu [2]. Apalagi pekik guru honor yang masih digaji 1/5 gaji Supir MBG [3].
Yth. Bapak Jenderal Prabowo Subianto , Presiden Kebanggaan Kami.
Izinkan saya, seorang abdi negara yang sudah 22 tahun lebih mengajar duduk sejenak di hadapan Bapak. Alhamdulillah sudah banyak prestasi di bidang literasi, numerasi juga inovasi dan dedikasi selama mengabdi, baik level Provinsi dan Nasional. Pengalaman magang dalam dan luar negeri membuat cakrawala berfikir kadang membuat saya sering ingin merangkum solusi untuk perbaikan di beberapa topik yang menyentuh nurani . Namun sadar di level kebijakan lebih banyak ahli yang suaranya akan mempengaruhi kebijakan Bapak.
Izinkan saya menyuarakan aspirasi, bukan sebagai pembangkang, tapi sebagai "Penguji Argumen" yang mencintai Bapak dan negeri ini. Saya tahu hati Bapak selembut sutra untuk rakyat, namun izinkan saya menggunakan metode forensic logic untuk menunjukkan adanya kekeliruan logis pada topik berikut ini.
Mari kita gelar "Bukti Perkara" ini di atas meja dengan tenang, menggunakan prinsip Occam's Razor—bahwa penjelasan paling sederhana biasanya adalah kebenaran, meski menyakitkan.
Bagian 1 : Estetika di Atas Etika (The Case of Misplaced Discipline)
Bapak meminta TNI/Polri mendampingi kami agar rapi dan necis [1, 4]. Secara prima facie (kesan pertama), ini niat mulia. Bapak ingin kami tampil gagah sebagai teladan. Namun, Bapak Jenderal, ada Missing Link dalam logika ini. Kerapian adalah produk dari Kesejahteraan, bukan semata kedisiplinan.
Bagaimana mungkin kami dituntut mengenakan "baret yang tidak kekecilan" dan sepatu mengkilap, jika gaji guru honorer kami di daerah—maaf beribu maaf—hanya cukup untuk membeli beras, bukan semir sepatu? [5] Ini adalah Non Sequitur (kesimpulan yang tidak nyambung). Meminta tentara mengajari guru berpakaian tanpa memperbaiki gajinya terlebih dahulu, ibarat meminta orang yang kakinya patah untuk baris-berbaris dengan sempurna. Indah dipandang, tapi menyiksa pelakunya.
Bagian 2: Paradoks Piring Emas vs Kapur Patah (The Inequality Paradox)
Bapak yang bijak, Ada data yang mengusik rasa keadilan prosedural (Procedural Justice). Saudara-saudara kami, para "Pasukan Panci" di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang baru bekerja seumur jagung, konon akan digelar karpet merah menjadi PPPK Penuh Waktu [2]. Sementara itu, guru honorer yang sudah mengabdi belasan tahun, yang mendidik anak-anak itu sebelum mereka bisa memegang sendok, harus rela antre di jalur lambat dan menerima label "Paruh Waktu" [6].Bahkan di sekolah saya masih ada yang belum dapat antrian P3K, nasih honor lepas.
Di sini terjadi Cognitive Dissonance (ketidaknyamanan mental akibat fakta yang bertentangan). Jika narasi besarnya adalah "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa", mengapa petugas yang mengenyangkan perut digaji lebih tinggi dan diberi status lebih mulia daripada petugas yang mengenyangkan akal? [7, 8] Apakah di Republik ini, kalori kini lebih berharga daripada literasi?
Bagian 3 : Efisiensi Anggaran (Follow The Money)
Sebagai guru yang mengajarkan matematika dasar, saya bingung melihat neraca ini. Dana pendidikan yang sakral, yang diamanatkan konstitusi untuk membangun jiwa dan raga, tersedot ratusan triliun rupiah untuk membiayai katering [9]. Ini bukan sekadar realokasi, Bapak. Ini terasa seperti Cannibalization. Kita mengambil batu bata dari dinding sekolah (anggaran pendidikan) untuk membangun dapur [10]. Akibatnya? Anak-anak kenyang, tapi mereka makan di dalam kelas yang atapnya bocor [11].
Bapak Presiden, mungkin Bapak sedang berada di dalam Echo Chamber (ruang gema) di mana bawahan hanya melaporkan "Siap, Bagus!" tanpa menyajikan data lapangan yang real-time.
Program MBG itu baik. Sangat baik. Murid-murid kami riang saat makanan telah tiba. Menu favorit mereka itu ayam. Selebihnya, sebagian kurang suka. Kalau boleh jujur, ketika menunya telur, nasi dan tempenya banyak yang terbuang pak. Walau ada yang nengumpulkan untuk diberi ke ternak mereka.
Maafkan saya untuk jujur. Bukankah Allah marah pada sesuatu yang mubazir?. Tapi kepedihan ketika beras dan tempe yang dibeli lewat mengumpulkan pajak itu hanya terbuang percuma (kalau di hitung se Indonesia tentu angkanya sudah milyaran). Betapa miris anggaran terbuang, yang sangat bisa di manfaatkan untuk menggaji guru honor, juga menambah gaji Guru lainnya.
Niat Bapak memuliakan guru itu sangat baik. Tapi, execution is everything. Jangan biarkan sejarah mencatat ironi ini: Bahwa di era Bapak, supir pengantar nasi lebih sejahtera daripada guru pengantar ilmu [3]. Bahwa tentara lebih dihargai masuk sekolah untuk sekedar mengajari guru berpakaian rapi daripada mementingkan kesejahteraan guru itu sendiri.
Kembalikanlah logika ini pada tempatnya (Restore the Order). Muliakan dulu gurunya, maka tanpa perlu Bapak suruh tentara turun tangan, kami akan berdiri tegak, rapi, dan bangga di depan kelas dengan seragam terbaik yang kami beli dari gaji yang memanusiakan kami.
Hormat Takzim dari ruang kelas yang merindu keadilan.
dari Ibu Guru Kelas 1 yang tidak menyebutkan namannya
Forum Grup Guru Kelas 1 SD Se Indonesia

0 Komentar