Matang daalam Memahami Agamanya | oleh Hayat Abdul Latief @the Sarung Band

Matang dalam Memahami Agamanya

Oleh: Hayat Abdul Latief  ‪@thesarungband‬ 

Allah SWT berfirman: وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا "Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.'" (QS. Thaha: 114) Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ "Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Menuntut ilmu merupakan perjalanan sepanjang hayat. Jika Rasulullah ﷺ saja diperintahkan untuk terus memohon tambahan ilmu, maka umat beliau tentu lebih membutuhkan semangat belajar dan memperbaiki pemahaman agama. Pemahaman agama yang notabene adalah karunia Allah yang harus disyukuri dengan terus belajar, mengamalkan ilmu, dan tidak merasa paling benar.
Seorang muslim tidak sepatutnya merasa bahwa dirinya telah mencapai puncak dalam memahami agama. Semakin dalam seseorang mempelajari Islam, semakin ia menyadari luasnya ilmu Allah dan banyaknya perkara yang masih perlu dipelajari. Karena itu, sikap tawadhu dalam menuntut ilmu merupakan ciri orang yang benar-benar menginginkan hidayah.
Dalam kehidupan bermasyarakat, seorang muslim hendaknya tidak menjadikan setiap perbedaan pendapat fikih sebagai bahan pertengkaran. Tidak sedikit persoalan fikih merupakan wilayah ijtihad yang sejak dahulu diperselisihkan oleh para ulama yang sama-sama berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Oleh karena itu, perbedaan seperti ini tidak boleh menjadi sebab rusaknya ukhuwah Islamiyah.
Allah SWT berfirman: وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا ۚ وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103)

Orang-orang beriman wajib berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Persatuan umat merupakan nikmat yang harus dijaga. Persatuan bukan berarti menghapus semua perbedaan pendapat, tetapi menyatukan hati di atas keimanan dan saling menghormati dalam perkara yang diperselisihkan oleh para ulama.
Allah SWT mengingatkan, seraya berfirman: إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
> كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al-Hujurat: 10)
Makna praktisnya, ketika terjadi perbedaan pandangan dalam masalah cabang agama, yang lebih diutamakan adalah menjaga persaudaraan, saling menghormati, dan menghindari sikap saling mencela atau merendahkan.
Dalam bahasa Arab, lafaz yang terkenal adalah:
"Setiap orang dapat diambil dan ditinggalkan pendapatnya, kecuali penghuni kubur ini (Rasulullah ﷺ)."

Ucapan ini diriwayatkan dari Imam Malik oleh beberapa ulama, di antaranya: Ibnu Abdil Barr dalam Jāmi' Bayān al-'Ilm wa Faḍlih dan Ibnu Hazm dalam Al-Iḥkām fī Uṣūl al-Aḥkām. Perkataan ini mengajarkan agar seorang muslim tidak fanatik kepada pendapat tertentu secara berlebihan, tetapi tetap menghormati para ulama dan mencari dalil yang paling kuat dengan adab yang baik. Qaul: رَأْيِي صَوَابٌ يَحْتَمِلُ الْخَطَأَ، وَرَأْيُ غَيْرِي خَطَأٌ يَحْتَمِلُ الصَّوَابَ
Sebaliknya, yang terbukti sahih dari Imam Asy-Syafi'i adalah perkataan seperti:
"Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah; dan pendapat selainku salah, namun mengandung kemungkinan benar."
Perlu dicatat bahwa para peneliti hadis dan sejarah tidak menemukan sanad yang kuat yang memastikan ucapan ini benar-benar berasal dari Imam Asy-Syafi'i. Kalimat tersebut sangat populer di kalangan ulama sebagai ungkapan adab dalam menyikapi perbedaan ijtihad, tetapi status penisbatannya kepada Imam Asy-Syafi'i tidak kuat.
إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي "Apabila hadis itu sahih, maka itulah mazhabku." Dan juga qaul: مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا إِلَّا أَحْبَبْتُ أَنْ يُوَفَّقَ وَيُسَدَّدَ وَيَكُونَ عَلَيْهِ رِعَايَةُ اللَّهِ وَحِفْظُهُ
Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat!
"Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang melainkan aku berharap Allah memberinya taufik, membimbingnya kepada kebenaran, serta menjaganya."
Bijaksana dalam menghadapi perbedaan berarti memahami mana perkara pokok (ushul) yang tidak boleh diperselisihkan dan mana perkara cabang (furu') yang memang menjadi ruang ijtihad para ulama. Dengan pemahaman ini, seorang muslim akan lebih mudah menghargai perbedaan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip akidah dan sunnah.
Orang yang matang dalam pemahaman agama tidak sibuk mencari-cari kesalahan saudaranya dalam persoalan khilafiyah, tetapi lebih fokus memperbaiki akhlak, memperbanyak amal saleh, dan memperkuat ukhuwah. Ia mengetahui bahwa kekuatan umat terletak pada persatuan di atas Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman yang benar.
Idealnya kita berusaha menjadi hamba-hamba Allah SWT yang terus belajar, rendah hati dalam menuntut ilmu, bijaksana dalam menyikapi perbedaan fikih, mengutamakan persatuan dan ukhuwah Islamiyah, serta senantiasa membuka diri agar bertambah ilmu dan wawasan.
Wallahu a'lam. Semoga bermanfaat!

Posting Komentar

0 Komentar