Pena Aswaja
Hatim Al-Ashom adalah seorang lelaki miskin. Ia hampir tidak memiliki harta dunia, sementara tanggungan keluarganya cukup banyak.
Suatu hari, ia keluar untuk duduk bersama sahabat-sahabatnya. Mereka berbincang tentang haji, tentang thowaf di Baitulloh, manasik, wukuf di Arofah, doa, munajat, dan limpahan pengalaman ruhani dalam perjalanan suci itu. Hati Hatim pun bergetar, rindu untuk berhaji ke Baitulloh.
Namun ia sadar, dirinya miskin. Tidak ada bekal yang cukup untuk sampai ke Makkah.Hatim pulang ke rumah. Ia memandang istri dan anak-anaknya lalu berkata: “Wahai keluargaku, aku ingin berhaji tahun ini.”
Istrinya terkejut dan berkata: “Dari mana biaya haji itu?. Engkau
hendak pergi dari mana?. Engkau akan meninggalkan kami dengan apa?. Engkau
pergi dan membiarkan kami seperti ini?”
Di saat suasana menjadi berat, muncullah cahaya dari dalam rumah.
Putrinya seorang gadis yang salehah, berilmu, zuhud, dan mengenal
Tuhannya menatap ayahnya dengan penuh keyakinan, lalu berkata: “Wahai Ayah,
ambillah harta itu dan berangkatlah berhaji. Bertawakallah kepada Allah. Kami
tidak pernah mengenal Ayah sebagai pemberi rezeki, kami hanya mengenal Ayah
sebagai orang yang memakan rezeki. Jika yang makan pergi, maka Sang Pemberi
Rezeki tetap ada.”
Betapa dalam pemahaman ini, betapa jernih keyakinan tersebut.
Hatim pun menerima nasihat putrinya. Ia mengambil setengah dari harta
yang ada dan meninggalkan setengahnya lagi untuk keluarganya, lalu berangkat
menuju Baitulloh.
Hari demi hari berlalu… satu hari, dua hari, tiga hari… Hingga makanan
habis dan harta pun lenyap.
Istri dan anak-anak mulai gelisah. Mereka menoleh kepada sang putri dan
berkata: “Begini akibatnya?. Engkau yang menyuruh ayahmu pergi, lalu
meninggalkan kami dalam kesulitan. Di mana hikmahmu sekarang?”
Putri itu tidak membantah. Ia masuk ke kamarnya, berwudhu, lalu berdiri
untuk shalat.
Di sinilah pelajaran pentingnya: Kesabaran saja tidak cukup saat
musibah datang, ia harus disertai dengan sholat.
Allah Ta’ala berfirman:
يا ايها الذين امنوا استعينوا بالصبر والصلاة
Dan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam apabila menghadapi suatu
perkara yang berat, beliau segera menunaikan shalat. Beliau bersabda kepada
Bilal:
ارحنا بها يا بلال
Gadis itu pun larut dalam sholatnya. Ia mengadu kepada Allah dengan doa
yang keluar dari hati terdalam:
يا من عودتنا فضلك لا تحرمنا من فضلك
Pada saat yang sama, di istana penguasa negeri, sang amir tiba-tiba
berdiri dari singgasananya, seakan ada kekuatan yang menggerakkannya. Ia
berkata kepada para pengawalnya: “Mari kita keluar melihat keadaan rakyat.”
Mereka pun berkeliling hingga Allah mengarahkan langkah mereka ke rumah
Hatim Al-Asham. Sang amir berhenti di depan rumah itu dan merasakan dahaga yang
sangat.
Ia berkata: “Aku ingin minum.”
Pintu diketuk. Putri Hatim keluar dan memberikan segelas air. Ketika
sang amir meminumnya, ia merasakan seolah-olah air itu lebih manis daripada
madu.
Ia bertanya: “Rumah siapa ini?”
Mereka menjawab: “Ini rumah Hatim Al-Ashom.”
Sang amir berkata: “Hamba Allah yang saleh! Di mana dia?”
Dijawab: “Ia sedang dalam perjalanan menuju haji.”
Sang amir berkata: “Wajib bagi kita memuliakan keluarganya saat ia
tidak ada.”
Ia pun mengeluarkan sebuah kantong berisi emas dan meletakkannya ke
dalam rumah. Lalu ia berkata kepada para pejabat dan pengiringnya: “Siapa yang
mencintaiku, hendaklah ia berbuat seperti yang aku lakukan.”
Maka rumah itu pun dipenuhi emas dan dinar.
Ibu dan anak-anak tertawa bahagia. Namun sang putri justru menangis.
Ibunya bertanya: “Mengapa engkau menangis, wahai anakku? Kita kini
menjadi orang kaya.”
Putri itu menjawab dengan hati yang penuh iman: “Wahai Ibu, Seorang hamba Allah saja memandang kita, lalu kita menjadi kaya. Maka bagaimana jika Rabb semesta alam memandang kita?”
![]() |
| Doa untuk Anak |


0 Komentar