"Kertas Lipat di Atas Meja"
Hujan turun lagi sore ini, sama seperti hari-hari sebelumnya. Aris duduk di bangku kayu tua di teras rumah, menatap jalanan yang basah. Di tangannya, ia memilin-milin selembar kertas cokelat yang sudah lecek.
Sudah tiga bulan ia menganggur. Lamaran kerja yang ia kirim entah sudah berapa jumlahnya, tapi jawaban yang datang selalu sama: "Maaf, Anda belum sesuai kualifikasi kami."
"Ris, masuk dulu, nanti masuk angin," seru Ibu dari balik pintu. Suaranya lembut, tidak ada nada marah atau kecewa sama sekali. Justru itu yang membuat Aris semakin merasa bersalah.
Aris tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Ia melihat Ibu membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan sepiring gorengan. Ibu duduk di sebelahnya, menaruh nampan di meja. "Pikirannya jangan terlalu berat, Nak," kata Ibu sambil meniup tehnya.
"Bu, Aris malu. Teman-teman Aris sudah pada punya pekerjaan tetap. Aris cuma bisa duduk di rumah makan hasil kerja Ibu," suara Aris terdengar paru. Matanya mulai berkaca-kaca.
Ibu tersenyum, lalu mengambil selembar kertas kosong dari dalam saku apronnya. Ia menyerahkan kertas itu beserta pulpen kepada Aris. "Tulis apa saja yang kamu mau di kertas itu," perintah Ibu.
Aris bingung, tapi ia menurut. Ia menulis satu kalimat: "Ingin segera bekerja dan membahagiakan Ibu."
Setelah selesai, Ibu mengambil kertas itu. Tanpa berkata apa-apa, Ibu melipat kertas itu berkali-kali hingga bentuknya menjadi sangat kecil dan rapi.
"Nah, sekarang buka lagi," kata Ibu. Aris membuka lipatan itu. Kertas itu kembali menjadi lembaran besar dengan tulisan yang sama. "Apa yang kamu lihat?" tanya Ibu. "Kertasnya jadi banyak lipatan, Bu. Jadi tidak mulus lagi," jawab Aris jujur.
"Betul. Begitu juga dengan hidupmu sekarang. Kamu sedang dilipat-lipat, ditekan, dan dirasakan sakitnya. Tapi ingat, kertas ini tidak pernah berubah isinya. Tulisannya tetap sama, kan? Kamu tetaplah anak yang hebat dan punya cita-cita yang sama." Ibu menepuk bahu anaknya pelan.
"Proses melipat itu bukan untuk menghancurkan, tapi supaya kamu muat dan pas saat Tuhan letakkan di tempat yang tepat nanti. Sabar ya."
Aris terdiam. Air matanya akhirnya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih, melainkan karena lega. Ia memeluk ibunya erat. Hujan di luar masih turun, tapi hatinya kini terasa hangat dan tenang.Besok, ia akan mencoba lagi.

0 Komentar